[[Tulisan ini dapat menyebabkan kebaperan berlebihan, sehingga segala resiko ditanggung masing-masing oleh penikmat bacaan. Disarankan membaca basmallah sebelum membaca dan hindari membaca dalam keadaan mendengarkan music yang mendudukung bacaan ini]]
Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri. Identitas diri ini didapat sedikit-demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental age-nya. Berbagai masalah akan menghampiri seiring dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal. Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan kemasa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan yang sudah lebih realistis. Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.
***
Hayo.. siapa yang sudah memasuki usia tersebut?? Hmm.. atau masih merasa menjadi seorang remaja? Hehe. Pada usia tersebut, apa sih yang paling teramat sering menjadi topic utama dalam keseharian kita? Perihal Pacar kah? Pendidikan kah? Penghasilan kah? Atau bahkan Pernikahan?. Nah loh.. siapa yang masih bingung? Atau bahkan merasa hidupnya yang so must going on aja?Hallo guys.. Hidup jika dilihat dari pandangan kalangan remaja kebanyakan, rasanya nikmat sekali ya. Pernahkah ketika pada masa remaja, kalian memikirkan “Oh saya memang ingin menjadi seorang ini.. atau seorang itu”, “Oh ya, saya belum memikirkan hal yang terlalu rumit soal masa depan. Toh nanti juga ada waktunya”. Pernah pastinya ya? Penulis juga demikian kok, hehe. Akan tetapi, ketika masa remaja yang kalian nikmati itu sudah berakhir dan kalian dihadapkan pada sebuah realita yang menjadikan kalian dengan segala macam tuntutan akan tanggung jawab, apakah siap? Atau terlambat kah menyadarinya?
Disini saya akan memberikan sebuah gambaran dengan beberapa percakapan yang dilakukan oleh 2 orang tentang Dewasa Awal itu sendiri.
***
Tepat pukul 12.00 WIB, rasanya matahari memberikan panasnya terlalu sinis. Menikmati secangkir teh dingin dengan di temani potongan lemon segar disisi gelas yang cantik, itu suatu kenikmatan yang luar biasa. Perlahan kaki beranjak menuju kantin Kampus dengan begitu bergesah tak sabarkan, mengingat kenikmatan pelepas dahaga.“Atun!!” teriak suara seseorang yang memanggil
Masih berjalan menuju Kantin, tanpa menghiraukan suara yang memanggil
“Tun!” sambil mengejutkan
“Ah elu toh yang manggil, kirain siapa jar?” berjalan namun sedikit lebih santai
“Buru-buru amat sih lo, haus yak? Haha sampe melas gitu” sahutnya dengan ledekan
“Berisik! Mau ngapain sih? Ganggu.. Haha” perlahan duduk
“Ish galak amat lo, tun. Bang pesen Ayam Bakar ya” sambil memesan makanan
Sambil menghela nafas yang terengah-engah “Huft.. yaudah, ada yang bisa dibantu oleh seorang Atun untuk Fajar di siang yang mencengkam, haus melanda, cacing perut yang menari tak berirama, kah?”
“Hahaha.. ngakak gue, lebay ah” perlahan pun duduk
“Yaudah.. lo mau ngapain buntutin gue, jar?. Masto.. lemon tea dingin satu, biasa ya special” memesan minum sambil memilih makanan ibu kantin
“Hmm.. ya biasa lah, kalau gue ngebuntutin lo berati kan ada maunya” memasang wajah sok kegantengan
“Biar gue tebak, pasti soal tugas?” memasang wajah jutek
“Mau bagaimanapun ke jutekan yang terpasang di wajah lo, bagi gue lo tetep cantik” masih dengan wajah sok kegantengannya
“Mulai deh.. mau muntah gue dengernya haha” ketawa geli
“Jadi begini Atun yang jutek tapi tetep cantik di mata gue. Kalau gue lihat, pengetahuan lo itu kan sangat luar biasanya dari gue yang dulu selalu kalah saing sama lo” sambil menerima makanan yang dipesan
“Duh, jar.. lo tuh laki-laki paling bisa bikin gue makin laper ngeliat zuppa soup plus makanan ibu kantin menjadi semakin lebih menarik untuk gue santap” memukul dengan buku
“Yeee..” sambil ngeledek
“Tapi tun, kali ini gue serius. Dan yang lebih seriusnya lagi, gue mau wawancara lo” sambil memulai untuk makan
“Buat kapan sama wawancara soal apa?” memulai untuk makan
“Soal kita..” nyeletuk
“Ki..ta? maksudnya?” berhenti sejenak
“Iyalah, kita kan masa dewasa awal?” mulai serius
“Lo mau wawancara bagian apa, jar?” menanggapi santai
“Semua yang lo tau plus lo memandang masa dewasa awal lo seperti apa, tun?”
“Hmm.. Okeh, traktir gue ya. Lo bayarin semua pesenan gue, haha” wajah rese
“Berapa sih, untuk wanita secantik lo dengan makan yang baru segini bukan hal yang berat untuk gue bayar. Apa perlu pake cinta?” bercandaan yang semakin menjadi dengan wajah sok kegantengannya (lagi)
“Ya Tuhan.. kenapa gue harus ketemu orang yang menyusahkan ini” menghela nafas
“Iya tun iya, gue bayarin semuanya. Bahkan, mau pesen lagi juga ngga masalah buat lo cemilin pas pulang. Tapi, bantuin gue yah, please!” memelas
“Hmm.. mulai sekarang aja nih ya wawancaranya?” serius
“Sip, bentar sambil gue rekam yak” menyiappkan ponselnya
“Dewasa awal.. berhubung gue adalah anak pertama dari dua bersaudara. Jadi, gue mulai memikirkan setelah lulus kuliah mau kerja apa, nikah umur berapa dan akan dengan siapa yang bagaimana orangnya” perlahan menghabiskan makanannya
“Hmm.. iya juga sih ya, kerjaan. Hm.. tapi gue tertarik tentang pembahasan nikahnya, tun. Coba jelasin gue bagian itu” mencoba menulis perlahan
“Kalau berbicara soal Menikah itu panjang dan banyak hal-hal yang ngewakilin gambaran sebuah pernikahan”
“(Fajar yang masih dengan seriusnya mendengar) terus tun..”
“Hm.. Pernikahan jika digambarkan secara sederhana, bisa kita liat Ayah Bunda dirumah. Sejauh gue mengenal Ayah Bunda gue. Mereka termasuk orang yang kuat, romantis, kadang menjengkelkan. Kuat dalam menghadapi segala tantangan yang mereka hadapi secara bersama, Romantis dikala salah satu dari mereka mengalami suatu keadaan yang mengharuskan hal itu harus sudah semestinya, Kadang bagian yang menjengkelkan ketika terkadang ada hal-hal kecil yang membuat gue sebagai anak tersadarkan begini toh pernikahan, gitu jar”
“Pacaran atau Menikah, tun?” menatap dalam
“Menikah. Pacaran yang ada dalam pikiran gue semenjak duduk dibangku SMP adalah memberi peluang hal yang tidak baik untuk gue, adik gue dan keluarga gue. Seiring waktu, pacaran bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan. Karena, sudah teramat jelas Allah swt melarang umatnya mendekati zina dalam bentuk apapun. Menjauhi zina itu sangat berat, berbuat zinalah yang teramat mudah dan tanggungan di akhirat akan sangat teramat pedih. Gue sangat keberatan ketika tangan ini harus bersentuhan dengan sesuatu yang bagi gue itu adalah larangan Allah swt yang harus gue patuhi” bernada tegas
“Sebegitu teguhnya lo dengan prinsip lo, tun” menegaskan kembali
“Gue seorang anak pertama, sudah suatu kewajiban buat gue memberikan contoh terbaik bagi adik gue dan bagi gue anak pertama adalah pondasi kepercayaan orangtua menitipkan tanggungjawabnya terhadap apapun itu. Dengan tidak pacaran, gue mempersiapkan ruang terbaik untuk seseorang yang luar biasa dalam hidup gue” semakin mempertegas
“Berati lo ngga pernah suka sama cowo haha?” ngeledek
“Gue manusia normal kali, jar. Masih tau cowok ganteng. Menikah buat gue adalah ketika gue siap memberikan keseluruhan lahir bathin, bersama menciptakan merangkai merawat cinta kasih gue dalam berbagai keadaan dan gue menjadikan dia sebagai orang yang wajib gue patuhi setelah jauh dari Ayah Bunda gue, karena ketika dia yang menjadi pasangan hidup gue adalah perpanjangan ridho sang Ilahi Rabbi”
“Seandainya orang itu memiliki kekurangan? Contohnya cacat fisik atau hal lainnya yang membuat lo berpikir berkali-kali, gimana tun?”
“Bagi gue yang sempurna hanya Allah swt, jar. Walaupun manusia adalah ciptaan Allah swt yang paling sempurna, mereka hanya dilebihi perasaan dan pikiran. Oleh karenanya, kelebihan yang Allah swt berikan itu untuk dipergunakan. Penyakit atau kecacatan kalau dipahami lebih dalam, Allah swt itu sangatlah dengan segala Maha-Nya. Allah swt pun berfirman dalam potongan QS. Al-Baqarah (287) yang artinya Allah swt tidak akan menguji suatu kaum melebihi batas kemampuan hambanya. Dengan kata lain, Allah swt saja begitu yakin bahwa hambanya mampu menjalani bentuk ujian yang diberikan. Dalam hal ini pula, kita sebagai manusia haruslah yakin dalam segala kehendak yang Allah swt berikan itu adalah sebuah kebaikan. Toh saling melengkapi, gue rasa hidup akan damai-damai aja. Karena ketika sudah menjadi suami dan istri, aib akan menjadi sebuah amanah bersama. Misalnya, pasangan lo punya tompel di perutnya. Itu tetap harus lo simpan baik-baik. Aib pasangan lo adalah aib lo juga. Dan tetap, gue akan terima walau bagaimanapun keadaaannya. Menikah itu bukan buat senang-senang, jar. Itu amanah dan tanggung jawab kepada Rabb lo”
“Apa pendapat lo tentang poligami?” sahut Fajar
“Hmm.. sampai saat ini gue masih belum bisa menerima itu. Mungkin, kalau disuruh milih mending banyak anak atau suami banyak istri. Gue akan milih banyak anak, bebas berapanya lah *konyol, hahahaha” tertawa
“Kok ngakak sih gue, tun hahahaha. Menurut lo, lo itu gimana?” meneruskan pertanyaan masih dalam keadaan tertawa
“Jadi, gue pernah denger ceramah yang singkat cerita, gue pun ingin menjadi seorang perempuan yang bagaikan sebuah bunga indah yang letaknya hanya ada di tepian tebing”
“Lah? Itukan susah. Ngga ada pilihan lain?” mengerutkan dahi
“Ada dua hal yang perlu di garis bawahi yaitu bunga indah dan tepian tebing. Hmm.. pelajari sifat bunga. Apapun namanya, warnanya, bentuknya, aromanya dia tetap disebut sebagai bunga walaupun tetap ada yang memiliki aroma yang kurang menarik seperti bunga rafleshia arnoldi, tetap aja kan orang-orang menyebutnya bunga. Bunga itu pada dasarnya indah, sekalipun ada yang bewarna hitam seperti anggrek, ada yang berduri seperti mawar dan lainnya. Bunga itu lemah, akan bertahan kepada sesuatu yang membuatnya kuat, seperti ketika dipetik, dia menyerah begitu saja bukan? Bagaimana dia akan melakukan perlawanan? Yang membuatnya tidak terlihat lemah tergantung pada orang yang memetiknya dengan baik, maka sampai kapanpun dia akan tetap ada bahkan subur. Bunga itu makhluk hidup yang diamnya saja banyak yang menginginkan dan tergoda olehnya, seperti hewan penghisap sari dan manusia yang memetiknya untuk dirawat ataupun diberikan kepada orang yang special. Sekali lagi, bunga adalah makhluk hidup yang diamnya saja banyak yang menginginkan dan tergoda olehnya. Hal lainnya yaitu tepian tebing. Tebing itu tinggi, curam, berbahaya, untuk menanjaki ketinggian diatasnya saja butuh usaha dan keberanian, banyak resiko bisa saja cacat fisik atau bahkan bisa tewas karenanya. Apalagi di tepian tebing? Perjuang hidup dan mati untuk meraihnya. Begitu pun wanita, bagaimana pun namanya, warnanya, bentuknya tetap disebut sebagai wanita. Wanita itu Tuhan ciptakan sebagai suatu hal yang sangat teramat mulia dan indahnya. Kemulian wanita, Tuhan letakkan surga ditelapak kakinya dan bahkan 3x yang disebut oleh Nabi Muhammad saw untuk diutamakan. Wanita yang dalam diamnya saja tetap indah dan menggoda walau bagaimanapun karakternya. Bukan bermaksud ingin jual mahal, tapi coba ditelisik lebih dalam lagi perihal wanita. Wanita yang seperti apa nantinya yang akan menjadi sandingan terbaik, itu tergantung masing-masing orang melihatnya. Jelasnya, laki-laki manapun dan maaf sebrengseknya dia, tetap menginginkan wanita terbaik toh? Gue rasa seluruh wanita menyadari ini sebagai kodratnya. Hanya saja perlu pupuk terbaik yang diterima atau mungkin butuh jatuh dulu baru tersadarkan. Wanita pun butuh tempat sandaran terbaik, karena sebagian besar penduduk neraka nantinya adalah wanita. Makanya, gue takut akan hal itu, jar. Gue ngga mau orangtua gue terlebih Ayah gue, di siksa hanya karena gue ngga bisa menjaga diri baik-baik. Bentar jar, lo udah zuhur belom? Gue sih lagi libur” mengingatkan waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB
“Kok lo? Ah.. luar biasa, tun. Hmm, belom sih. Yaudah bentar gue bayar dulu semua makanan, beres-beres buku abis itu ke masjid. Hmm.. lo hari ini pulang cepet ngga, tun?” sambil mengeluarkan dompet
“Hmm ngga kayanya. Gue lagi butuh nenangin diri aja, mau baca-baca buku paling di Sevel. Kenapa?” sambil merapihkan buku-bukunya
“Oh gitu.. yaudah, lanjut lagi aja yak? Nanti gue samper lo di Sevel. Ngga ganggu kan?” sambil memnunggu Atun
“Oh yaudah, nanti lo sammper gue ya. Sholat loo.. udah jam berapa nih” menegaskan
“Iyah atun jutek yang cantik” menggoda
“Err.. sholat sana. Setan lo lagi banyak noh, haha” membalas meledek
“Astaghfirullah.. Atuuuuuuunn.. jahat lo! Iya gue sholat, sambil do’a supaya lo jadi bini gue ntar, hahaha” meledek dan bergegas ke masjid
“Do’ain aja, kaya terkabul aja do’a lo, haha” membalas dan bergegas ke Sevel
***
To be continue
Selamat membaca dan mari memberi kritik saran yang membangun kepada Penulis yang masih jauh dari kata sempurna ini :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar