Melanjutkan tulisan sebelumnya di Born in 2k17 part 1, selamat menikmati untuk larut di dalamnya. Mohon berikan bumbu penyedap untuk penulis yang masih apalah apalah, hehe
Menjadi
seorang dokter adalah suatu keinginan terbesarnya semenjak di bangku SMP.
Baginya, dokter adalah perantara kepercayaan Allah swt dalam mengembalikan
keadaan seseorang agar sehat kembali sehingga mampu menjalani kewajiban terhadap sesama manusia maupun Tuhannya. Salah
satu keinginannya itupun, ingin mewujudkan keinginan Almarhum Neneknya yang
sangat mengidamkan Bundanya untuk bisa terjun di dunia kesehatan. Namun, apa
boleh buat Bundanya sadar akan ekonomi yang saat itu belum mendukung. Hm..
bersyukurnya Atun bisa mewujudkan itu semua.
Sesampainya
di Sevel, mencoba menenangkan diri dari segala lelah yang dirasa. Namun, lelah
kali ini tidak terkondisikan dan tidak diketahui asal sebabnya. Perlahan
dibukanya buku harian kecilnya. Buku itu berisi segilintir harapan yang akan
dicapai dalam beberapa tahun ke depan. Sadar bahwa dalam hitungan bulan yang
akan melepas status mahasiswi Kedokterannya, teringat akan perbincangan perihal
Pernikahan tadi dengan Fajar. Atun yang dalam waktu belakangan sudah mulai
disinggung soal masa depan oleh kedua orangtuanya, terlebih soal Menikah.
Rasanya, bukan itu salah satu penyebab lelah yang tak terkondisikan ini.
“Coba
liat” menarik buku catatan kecil Atun dengan mengejutkan
“F A J A
R ! ! Balikin ! !” dengan wajah kesalnya dan bergegas pergi
“Eh iya,
tun.. tun.. Ini buku lo.. Jangan ngambek sih, tambah cantik lo kalau ngambek”
menarik tas Atun
“(menenangkan
diri). Lo tuh ya! Keterlaluan bercandanya, jar. Ngga bisa gitu, dateng ngasih
salam dan ngga ngerampas yang bukan hak lo”
“Yaudah..
Assalamu’alaykum Raudhatun, maafin Fajar yah udah ngagetin yang tiba-tiba
ngerebut buku lo ini. Hm.. kayanya gue baru liat ini buku” mencoba mengambil
hati dengan rasa penasaran akan isi buku kecil bewarna pink dengan pita manis
sekelilingnya
“Wa’alaykumussalam..
ngga gue maafin dan ini bukan urusan lo” masih dengan rasa jengkelnya
“Yah..
Atun ngambek. Maafin sih.. Btw, gue punya ice cream nih rasa choco cheese
buat lo. Nih, di ambil ya” membujuk dengan perhatian
“Pfft..
ogah. Gue lagi diet” masih dengan jengkelnya
“WHAT?
Seorang Atun diet? Hahahaha, eh.. maaf” mulai ngeledek
“Hidup lo
selalu bercanda, jar. Ngga pernah serius sedikit gitu” sibuk dengan ponselnya
“Iyah,
tun maaf.. Ini ice creamnya nanti meleleh nih” tetap membujuk
“Yaudah
gue terima, walaupun gue jadi gagal diet hhaaha” sambil tertawa malu
“Nah gitu
dong. Kan sama manisnya tuh” sambil mengeluarkan ala tulis dan ponsel untuk
merekam
“Hah?
Apaaa?” kaget
“Apa?
Emang gue ngomong apa barusan ya? Hmm..” mencoba mengelak
“Lanjut
sekarang lagi ya, tun” membujuk kembali
“Hm.. Ok.
Sampai mana tadi? Atau ada pertanyaan baru?” sambil memakan ice creamnya
“Pertanyaan
baru aja, tun. Hm.. menurut lo Laki-laki itu gimana?” mulai menyalakan
ponselnya
“Lah lo
kan laki !? Kok nanya gue?” meledek
“Tuunn..
kan konteksnya lo yang gue wawancara. Tinggal jawab cantik” mulai serius
“Ish..
iyaa. Hmm.. Laki-laki itu sama halnya dengan wanita, yang dalam diamnya pun
dapat menggoda siapapun. Makanya kan, Allah swt berfirman bukan untuk perempuan
saja yang diharuskan menjaga aurat, menundukkan pandangan dan menjaga
kemaluannya. Melainkan, peraturan yang sama untuk laki-laki dan perempuan”
menegaskan
“Hehe
maaf ya Atun” cenge-ngesan
“Kok
maaf?” terheran
“Iyah,
gue sering godain lo. Maaf ya” memelas dan dengan rasa bersalahnya
“Alhamdulillah..
Sahabat gue yang menyebalkan ini akhirnya tersadarkan juga” dengan senyum
“Oiya
tun, lo adalah perempuan yang jarang gue liat” sambil mengetuk-ngetukkan pensil
“Hmm
terus?” mengerutkan dahi
“Iyah
jarang. Secara yah, gue udah sahabatan lama sama lo. Ngga pernah sekalipun lo
mengizinkan gue untuk memegang tangan lo atau hanya sekedar merangkul lo atau
apapun yang menurut lo, gue itu menyentuh lo. Padahal diluar sana ada muslimah
yang dia bilang sih ngga mau pacaran tapi sama temen cowoknya dia malah melebihi
orang pacaran. Ketika gue tanya hubungan mereka itu apa dan mereka menjawabnya
(kita hanya teman yang saling menjaga). Lo sependapat ngga sih dengan
pernyataan itu?
“Hmm
kalau gue tetap pada prinsip gue jar, ingin menjadi seorang perempuan yang
bagaikan sebuah bunga indah yang letaknya hanya ada di tepian tebing. Untuk
orang yang lo sebut tadi teman yang saling menjaga. Pemahaman gue
terhadap pernyataan itu masih kurang jar. Karena teman yang saling menjaga
adalah teman yang tidak menjadikan murah temannya sendiri. Dan dia pun
bukan lah wanita murah untuk temannya sendiri. Aturan Allah swt tentang
penjagaan diri seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang tepat dan jelas
hanyalah menikah selain itu gue ngga tau istilahnya apalagi, hehe. Jadi,
gue sangat tidak sependapat dengan pernyataan itu”
* to be continue *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar